Setelah proses panjang yang cukup bisa dibilang panjang, akhirnya kami di KALA memutuskan untuk mulai merilis satu persatu hasil olah proses produksi di bulan Februari ini.

Tidak ada hingar bingar apapun layaknya Arief Muhammad atau Raditya Dika dalam prosesi peluncuran karya rekam gambar video KALA. Dan untuk alasan apapun, kami menyadari ketidak berdayaan kami dalam koridor perbandingan dengan dua tokoh tersebut.

Tapi begitulah kebanyakan dari kita yang selalu sibuk dengan perbandingan-perbandingan dan di titik yang sama melupakan untuk mencari persamaan.

Dan di point ini KALA harus bersyukur karena paling tidak, KALA memiliki satu persamaan yang sama bahwa kami ingin tetap terus bernafaskan karya.

***

Per-tanggal 27 Februari tahun ini, kami merilis sequel hasil proses wawancara kami dengan Ibu Alamanda Shantika. Perempuan tangguh yang memilih untuk mengambil jalur tumbuh di ranah teknologi. Keluar dari perusahaan yang dengannya keduanya tumbuh beriringan, Go-jek Indonesia, Alamanda Shantika memilih untuk membuka oase baru dalam rangka mentriger proses pengembangan teknologi di Indonesia dengan melahirkan Binar Academy, sebuah sekolah teknologi gratis dengan kurikulum berbasis product, dan pergerakan digital di Indonesia.

KALA bersyukur berkesempatan untuk bertatap muka dan berbincang langsung dengan Alamanda Shantika. Sosok cerdas. Kuat secara ambisi. Dan sepertihalnya Angela Lee Duckworth gambarkan tentang “grit”, Alamanda Shantika memenuhi semua kriteria dalam spectrum tersebut.

Tanpa berpanjang kata, kami persilahkan teman-teman untuk langsung membuka laman chanel Youtube kala di youtube.kalajournal.com dan temukan begitu menariknya gagasan dan ide Alamanda Shantika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *