KALA: Pengetahuan agama dan lain sebagainya itu memang sudah di-support sama orangtua dan keluarga sejak kecil atau bagaimana? Atau meng-explore sendiri (pengetahuan agama tersebut)?

Dewi Nur Aisyah: Jadi yang dulu saya ingat adalah ayah saya ini memang orang yang suka belajar agama. Jadi ketika dulu saya SMP aja bacaan saya tuh udah Riyadush Shalihin, Al Lu’lu’ wal Marjan, Bulughul Maram, kayak gitu-gitu. Kadang saya nangis sendiri. Namanya SMP ya, pasti setiap orang punya lah masa-masa yang dia ngerasa, “kok saya masih gini banget ya?” Ketika itu saya ngebaca bab mengenai ketaatan kepada orangtua dan lain sebagainya. Saya nangis beneran nangis baca buku itu. Dan saya ngerasa bahwa saya masih jauh dari berbakti sama orangtua saya, dan lain sebagainya. Jadi awalnya itu mulai dari SMP, ketika saya baca-baca buku, itu sudah punya porsi tersendiri dalam diri saya, yang membuka saya mata lebih jauh untuk belajar agama dengan lebih rajin lagi. Ketika SMA, itulah titik balik saya.

Titik balik saya mulai mengenal hijab, itu ketika SMA. Karena orang tua saya juga bukan, bukan dibilang bahwa mereka adalah orang yang agamis sekali. Bukan agamis sekali sih, tapi ayah saya emang suka dengan pendidikan agama. Tapi ketika detik itu, saya belum dipaksa untuk pake, atau diajarkan untuk pake jilbab itu kewajiban dan sebagainya, itu saya nggak diajarkan. Tapi sejak usia 3 tahun, saya sudah ikut pengajian. Ibu saya sudah bilang, “kamu tuh suka banget ngaji dek”. Akhirnya, ketika saat itu dari mulai SD dan sebagainya, dari mulai 3 tahun saya sudah ikut pengajian. Mengaji di deket rumah, belajar baca huruf hijaiyah, baca Qur’an. Usia 4 atau 3 tahun? Empat tahun saya sudah bisa baca Qur’an ketika saat itu. Qiraat, saya suka ikut lomba-lomba cerdas cermat, apa lagi tuh, tilawah Qur’an, bahkan pidato keagamaan. Jadi dulu emang ibu saya suka ini, mengikuti, “ayo ikut ini dek, ikut ini dek, ikut itu dek”, segala macem. Tapi belum ada, apa ya? Bagi saya belum sampai dengan capaian bahwa saya memahami bahwa saya harus begini. Penanaman aqidah belum sampai sana.

Kalajournal.com with Dewi Nur Aisyah

Sampai dengan akhirnya saya mulai SMA, saya ikut mentoring di, waktu itu di SMA 14. Saya mulai ikut mentoring di tahun pertama. Saya melihat bahwa, “kakak-kakaknya kok pake jilbab panjang-panjang cakep ya?” Saya ngerasa ada adem mukanya, cakep. Cantik itu kan relatif ya? Tapi saya melihat ada keteduhan di sana. Dan akhirnya semenjak saat itu juga, saya ber-azzam bahwa saya ingin mengenakan hijab. Dan orang tua saya tidak, tidak menolak saya, bahkan langsung, “oke, kita beli baju panjang”, pada hari itu juga. Jadi alhamdulillah-nya, orang tua saya mendukung dengan begitu baik ketika saya memutuskan untuk berhijab. Dan pasca itu, dari mulai…saya memang ketika pake hijab langsung panjang, nggak tau kenapa ya. Karena ngikutin kakak kelas yang bentuk model kerudungnya panjang-panjang juga. Jadi pake kerudungnya panjang, dan sampai sekarang masih bertahan dengan sistem yang seperti itu. Mulai dari SMA belajar agama dengan lebih baik lagi. Maksudnya kalau dulu kan memahamkan agama dari baca, dari mendengarkan guru dan lain sebagainya. Tapi ketika sudah mulai dewasa, pilihan-pilihan untuk lebih taat, untuk lebih menguatkan aqidah kita kan adanya di hati kita.

Dan akhirnya, saya selalu berpikir bahwa, bisa jadi segala kebaikan yang kita dapatkan hari ini, ketika kita dapat berislam dengan benar, ketika kita dapat menjaga keimanan, bisa jadi itu bagian dari doa-doa orang tua kita yang telah mengetuk langit-Nya dan mencapai, apa ya, mencapai keridhoan Allah agar Allah mudahkan kita untuk mendapatkan hidayah-Nya. Jadi saya nggak bilang bahwa meskipun orang tua saya dahulunya bisa jadi pemahaman agama tidak lebih baik dibandingkan saya,  tapi percayalah bahwa mungkin doa-doa mereka yang telah mampu menembus langit-Nya, yang ternyata telah Allah kabulkan doanya agar kita berada dalam keimanan yang benar.  Gitu.

Kalajournal.com with Dewi Nur Aisyah

Kalajournal.com with Dewi Nur Aisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *